puisi ini juga merupakan salah satu karya timur sinar suprabana yang saya kutip dari buku “sihir cinta”:
langgam merindurindu Hati yang merinduku
kurindurindu, o, kurindu
kapan datang Hati yang merinduku
:melenggang sayang
semampai dan tak kenal bimbang
manis Mata
membuang Tangis dari jiwa
mengajak ke sana
mengajuk minta dicinta
kurindurindu, o, kurindu
kapan datang Hati yang merinduku
:mengapung melayang
dari suwung ke terang
gulali Kata
menepis Gulana dari suksma
mengajak ke cahya
mengajuk minta asmara
kurindurindu, o, kurindu
kapan datang Hati yang merinduku
:kurindu Selalu kamu
kerna kalbuku menjanjikan datangmu
di sangat Dulu.
april, 2008
langgam merindurindu Hati yang meninggalkanku
sayang, aih, sayang
sungguh sayang
:keburu engkau pergi, Sayang
melenggang ke lengang
hati ini Sayang, aih, hati ini
jadi lubang sarang sepi
di mana Sunyi mengerami pasi
menetaskan segala sangsi dan lesi
sayang, aih, sayang
sungguh sayang
:telah putus benang layang
segala kabar klewung ke gamang
hati pecah Sayang, aih, hati pecah
sampai badan ikut belah
memang Umpama tiada kan pernah berdarah
tetapi dulu pernah kupunya kias sumringah
sayang, aih, sayang
sungguh sayang
:ajal melawang
hidup hilang
di ketika Masih bau bawang.
april. 2008
langgam merindurindu Hati yang luka
hati yang luka
tidak saja oleh Cinta
jadi Luka kini ia
:mukim di arah pandang mata
walau ganas
panas
meremas
tapi Hati kebas
hati yang luka
tiada lagi pernah membuka
jadi belukar melata
:menjalar ke segala mana
walau gurat
riwayat
mengurat
tapi Hati khianat
hati yang luka
kucinta, Tetap sungguh kucinta
jadi kirana
:padam berkilau dalam jiwa
di muramnya segala melebam sia.
april. 2008
langgam merindurindu Hati yang kaucuri
kerna telah kaucuri hati
tiada henti kaucuri
bahkan tiap terganti selalu kembali kaucuri
:hidupku jadi Jalan sunyi tak berarti
badan kosong
tubuh gosong
diri growing
jiwa ini melompong
o, Hati yang kaucuri
bikin datang pagi
tak ditandai matahari
:segala jadi asam sepi
tapi bukan kerna ragi
riwayat
tak berurat
gurat
tak tersurat
apalah aku di Sendiri
apalah Sendiri memucatpasi
apalah pucatpasi meletih Sunyi
apalah sunyi kerna Hati kaucuri
jika bukan Putus segala nadi?
april. 2008
langgam merindurindu Hati nan sunyi
kerna Hati nan sunyi
selalu luas tak kenal tepi
di situ aku biasa menari
sering sampai nyaris enggan henti
di mana kini tapi
o, Hati nan sunyi
jika semua hati
bukankah memang telah sepi?
hati sepi kerna disepi Hati
bukan Hati nan sunyi
hanya kubur buat yang tak benar mati
riuh oleh gerak dan kosakata tak berarti
kurindurindu Hati nan sunyi
tapi kutolaktolak sunyi hati
bahkan meski telanjang hingga ke nadi
sebab sunyi hati tetaplah sunyi tak terperi
tega menaruh Hidup di ujung duri
april. 2008
langgam merindurindu kerinduan tak kenal Rindu
untuk wb
parau dan sengau
timur nyanyi lagu leo kristi dengan galau
angin malam yang berbisik padaku
:mengapa bersedih
pilarpilar tegar gema memanjang
:abadi cintaku
bintangbintang yang berkedip padaku
:mengapa sendiri
kaupergi dan tak kan pernah kembali
:tepati janji
di sini, ma
di jiwa sungguh semata sepi kosong hampa
:kuhela badan, tubuh dan diri masih selalu ke Cinta
yang bukankah tapi senantiasa kaupedaya?
kerna Cinta senantiasa kaupedaya
bahkan luka ikut pula kembali terluka
:sampai jam, penanggalan, masa
hilang warna tanpa rona
maka kutulis puisi tanda aku masih di Sini
kutulis juga sajak tanda aku masih ke Gerak
:di Sini menimang hati
ke Gerak menjahit koyak
tak ada sungguh
benarbenar bisa bikin aku lumpuh
tidak juga lepuh
yang memperlambat tumbuh
pecah bulan
belah badan
tekateki pengharapan
terpeta di garistangan
engkau
risau
menafsir galau
tak titis kerna silau
aku
beku
mengayu kaku
:dikanji waktu
itulah sebab mengapa kita Percuma
seperti purnama
mengapung lembayung
dengan sinar murung
itulah sebab mengapa kita berpasangsia
sewajah bohlamsebul persia
dengan liuk saling belit
bikin sisa udara di selanya tak henti menjerit
ma
di mana kini engkau, o, Mata
di mana kini engkau, o, paras Jelita
di mana kini engkau, o, yang Tiada kulupa
sedih meredup liyup
pedih meluruh sayup
tiap pengin kutahu bahkan kertab lindap
niarap penyap di sebalik helai senyap
benarkah engkau Hilang
kerna sesat di bimbang
atau akukah yang centangperentang
sebab direntang ke tiap titik bintang
sungguh Jauh kini
jarak hati dan janji
sungguh Pasi kini
tanpa kibar panji
maka berulang kuhitung iga
berharap Masih bakal engkau penggenapnya
tapi jemariku lumpuh di hitungan ketiga
dan malam Masih selalu menelikung senja
aku tergulung mimpes oleh sisa rona penghabisannya
april. 2008
Ditulis dalam musik, lagu, & puisi | Tag: puisi karya timur sinar suprabana







