berikut adalah salah satu puisi karya sahabat keluarga, timur sinar suprabana yang baru saja saya baca pertama kali dini hari tadi dalam blog barunya.
buat Rina
:kerna bulan mengapung di Mata
kebahagiaan kerna diamdiam mencintai
bikin Taman di hati
bikin Tumbuh segala sunyi
bikin Kosong makin tak butuh isi
jadi hamparan tanpa cekungan
jadi kehijauan hari berhujan
jadi cakrawala kemudaan
mencintai
mempertemukanku dengan kalbu
dengan rumah rahasia hatiku
yang gang dan nomornya
kutulis dalam warna merahkesumba
dan menyala di tiap malam tiba
berbinar pula di mata
memekarkan hampir segala Bunga
cuma dewa tapi
yang boleh memetiknya
:dengan Hati
april 2008




Rina. Hati-hati. Timur Sinar Suprabana, penyair itu, PENGGODA NOMOR SATU di kota ini. Tetapi, yakinlah, ia PENCINTA SEJATI. Tak pernah melukai hati. Aku tak tahu, puisi itu harus membuatmu bersyukur atau…. kuatir!
Oleh: ari on Mei 16, 2008
at 10:18 pm
Rin, wuih……nek bojoku sing digudo ngene wis tak jak berbalas pantun si timur ini:
ikan bandeng emang amis
lebih enak kalau tanpa duri
kalo nggak ngganteng jangan sok puitis
tapi boleh juga’ aku diajari bikin puisi
(he he he…
ternyata ada sisi yang tak kuketahui,
mungkin terlalu singkat persinggungan kita / geometri kali ….)
Oleh: masandhy on Juli 28, 2008
at 9:42 am
Mbak Rina…itu yg mbak ceritakan ke aku ttg launching buku itu ya? Ee..maaf aku baru lihat blognya mbak sekarang, baru tahu kalo punya blog he he he..bagus tu puisinya..boleh dong kenalan ama si pembuat puisi, jadi aku isa curhat jg ttg puisi, mumpung puisiku jg banyak..piye mbak..tak tunggu jawabannya..boleh sms biar cepet daripada aku mesti ol kelamaan. Salam buat mas Ciput ya..bye
GBU
Oleh: Nia on Agustus 5, 2008
at 11:07 pm